Tampilkan postingan dengan label Tempat Bersejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat Bersejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Juli 2015

Gedung Jaarbeurs, Rumah Dari Acara Tahunan Yang Hilang

Gedung Jaarbeurs di Bandung yang kini menjadi Makodiklat TNI AD di Bandung

Gedung Jaarbeurs di era 1920-an

Poster Jaarbeurs tahun 1931


Kalau Anda melintasi Jalan Aceh di Bandung, tentunya Anda akan melihat sebuah gedung yang kini menjadi Makodiklat TNI AD di Bandung. Gedung itu bukanlah gedung biasa, dan merupakan salah satu peninggalan sejarah di Bandung. Ya, gedung Makodiklat TNI AD itu awalnya adalah gedung utama Jaarbeurs.

Jaarbeurs sendiri artinya adalah "Bursa Dagang Tahunan". Keberadaan Jaarbeurs diprakarsai oleh  B. Coops (walikota Bandung saat itu) dan Comite tot Behartiging van Bandoeng's Belangen (Komite Untuk Pengurusan Kota Bandung). Komite ini berubah namanya menjadi Bandoeng Vooruit (Bandung Maju). Boleh dikatakan Jaarberus adalah "saingan" dari Pasar Gambir di Batavia (yang menjadi cikal bakal Jakarta Fair). Pembukaannya dilakukan oleh B. Coops.

Selasa, 16 Juni 2015

Makam Belanda di Kebun Raya Bogor: Catatan Persinggahan Saya

Foto ini saya ambil ketika kunjungan pertama di Kebun Raya Bogor, Sabtu (30/05/2015)

Papan keterangan yang mengalami kerusakan kecil namun tetap disayangkan

Nisan dari makam bersama Henrici Kuhl (Heinrich Kuhl) dan Johan Conrad van Hasselt

Masih di kunjungan pertama, berfoto bersama salah satu nisan makam

Foto makam Belanda yang saya ambil sendiri dari arah lain

Dalam kunjungan kedua pada hari Minggu lalu (14/06/2015). Danau atau yang biasa disebut dengan
"Kolam Gunting" ini berada tidak jauh dari makam Belanda


Bersama seorang pria tua asing dari Leiden (Belanda) yang datang secara khusus ke makam Prof. Kostermans.
Dari beliau, saya mendapat pengalaman dan wawasan menyenangkan



Letak makam Belanda ini ada di Kebun Raya Bogor, tidak begitu jauh dari pintu masuk utama. Anda cukup berjalan kaki setelah melewati pintu masuk utama. Jika Anda berjalan dari pintu masuk utama, makam Belanda ini terletak di arah kiri dari danau, tepatnya di tengah-tengah rimbunnya pohon bambu. Saat memasuki jalan kecil di tengah rimbunnya pohon bambu, kesan yang akan Anda dapatkan mungkin tidak jauh dari "angker", "seram" atau yang lainnya. Memang bagi yang tidak biasa, tempat itu terlihat cukup membuat merinding. Terlepas dari kesan-kesan seperti itu, setelah Anda tiba di depan makam Belanda tersebut rasanya akan lain lagi. Suasananya begitu teduh dan tenang sehingga membuat siapa pun yang datang ke sana akan betah berlama-lama di tempat itu. Anda akan dibuat seperti terlepas dari rutinitas harian yang begitu padat. Kebetulan di depan makam itu disediakan tiga kursi panjang untuk tempat duduk pengunjung (tidak sempat saya abadikan dalam foto).

Saya sendiri baru dua kali mengunjungi Kebun Raya Bogor, dan dua kali itu pula saya sempatkan untuk singgah ke makam Belanda tersebut. Tepat di persinggahan kedua saya di hari Minggu kemarin (14/06/2015), saya bertemu seorang pria asing yang sudah tua. Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan pria asing tersebut. Tetapi setelah

Rabu, 22 April 2015

Gunung Kunci, Benteng Tua Nan Kokoh di Sumedang

Pemandangan di salah satu bagian dari Gunung Kunci.
Konstruksi benteng yang kuat seolah menjadi saksi bisu akan peristiwa masa lalu yang ada di sana

Bagian benteng pertahanan Gunung Kunci


Benteng tua ini berada di wilayah Sumedang. Letaknya pun tidak jauh dari pusat Kota Sumedang. Benteng ini berdiri di Gunung Panjunan, namun masyarakat lebih mengenal tempat ini dengan sebutan Gunung Kunci. Dinamakan demikian karena di gerbang masuk ke benteng ini terdapat lambang kunci menyilang. Sebenarnya Gunung Kunci sendiri tidaklah berarti gunung dalam artian gunung yang besar seperti Gunung Tampomas. Bisa dikatakan penamaan gunung itu karena letaknya yang berada di sebuah bukit yang letaknya berada di tengah Kota Sumedang.

Luas benteng ini kurang lebih sekitar 2.600 m2 dengan luas bunker yang mencapai sekitar 450 m2. Rincianya, benteng ini terdiri dari tiga lantai, meliputi ruangan untuk prajurit, perwira, tahanan dan benteng itu sendiri. Semua dilapisi dengan

Sabtu, 18 April 2015

Gerbang Amsterdam (Amsterdamsche Poort), Sisa Dari Kasteel van Batavia Yang Turut Menghilang

Salah satu foto Gerbang Amsterdam. Foto ini diperkirakan berasal dari tahun 1870

Lukisan tentang Kasteel van Batavia (dilihat dari Kali Besar).
Dilukis oleh Andries Beeckman pada tahun 1656


Gerbang Amsterdam (Amsterdamsche Poort) atau juga disebut Gerbang Penang (Penangpoort), adalah sebuah gerbang tua di Jakarta, yang dibangun pada saat ibu kota Republik Indonesia itu masih bernama Batavia. Dibangun untuk melengkapi Kasteel van Batavia (Kastil Batavia). Kasteel van Batavia sendiri dibangun pada tahun 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen, yang kemudian diganti dengan pembangunan kastil yang lebih besar pada tahun 1627. Posisi gerbang ini adalah di bagian selatan dari Kasteel van Batavia. Hingga tahun 1707, Kasteel van Batavia menjadi pusat pemerintahan bisnis, dan lainnya. Karena keadaan yang semakin tidak sehat, pusat pemerintahan pun dipindahkan ke bagian Selatan. Lebih tepatnya, pusat pemerintahannya ada di Stadhuis yang kini dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta.

Gubernur Jenderal Gustaaf Wilem Baron van Imhoff (1743-1750) memerintahkan untuk melakukan renovasi terhadap gerbang ini dengan gaya Rococo. Orang-orang yang memasuki Batavia dari pelabuhan Sunda Kelapa, pada masa itu

Kamis, 30 Oktober 2014

Koningsplein Batavia, Kini Medan Merdeka

 Pesawat-pesawat pembom Glenn Martin B-10 milik LA-KNIL/ML-KNIL
terbang diatas Koningsplein, Batavia 1930-an

Pedagang Cina menjual kainnya kepada pembeli lokal di Koningsplein Batavia

Pemandangan Pasar Gambir di Koningsplein Batavia

Monumen Nasional di tengah Lapangan Merdeka, dilihat dari Stasiun Gambir


Tentunya kita tahu apa itu Medan Merdeka atau Lapangan Merdeka. Ini adalah sebuah lapangan luas yang terhampar di tengah Jakarta (ibu kota Indonesia), tepatnya di Jakarta Pusat. Di tengah lapangan ini berdiri (Monas) Monumen Nasional. Di sekeliling lapangan ini juga terdapat bangunan-bangunan penting seperti kantor-kantor kementerian negara, Istana Merdeka dan Mahkamah Agung. Lapangan ini di masa Nederlands-Indie dinamakan Koningsplein (Lapangan Raja).

Pada akhir abad ke-18, pemerintah Nederlands-Indie memindahkan pusat pemerintahan dari Oud Batavia (Batavia Lama) ke Weltevreden (kini Jakarta Pusat). Di Weltevreden, mulai dibangun beberapa bangunan penting termasuk fasilitas lapangan. Ada dua lapangan utama yang dibangun oleh pemerintah Nederlands-Indie saat itu: Buffelsveld dan Waterlooplein (kini Lapangan Banteng). Lapangan mulai dibangun oleh Daendels di awal abad ke-19. Waterlooplein berfungsi sebagai tempat berkumpul untuk berkuda dan bersosialisasi

Kamis, 25 September 2014

Vliegveld Kalidjati/Lanud (Lapangan Udara) Suryadarma Kalijati, Lanud Militer Bersejarah dan Tertua Peninggalan Nederlands-Indie

 Para penerbang ML (Militaire Luchtvaart)-KNIL di Vliegschool
(Sekolah Penerbangan) Kalidjati, Vliegveld Kalidjati


 Vliegveld Kalidjati saat dikunjungi oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock.
Kunjungan ini dalam rangka kunjungan dua hari Dirk Fock
ke Pamanoekan dan Tjiasemlanden, 27-28 Oktober 1922

Lukisan yang menceritakan bagaimana Vliegveld Kalidjati mendapat serangan udara dari Jepang

Rumah Sejarah yang menjadi tempat penandatanganan menyerahnya Belanda kepada Jepang.
Rumah Sejarah ini berada di Kompleks Garuda E25 Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang, Jawa Barat

Gerbang utama Lanud (Lapangan Udara) Suryadarma saat ini


Jauh sebelum dibangunnya berbagai pangkalan udara militer untuk keperluan kekuatan udara di Nederlands-Indie seperti Vliegveld Maguwo (1938) di Yogyakarta dan Vliegveld Maospati (1939), pemerintahNederlands-Indie telah melakukan survei ke beberapa tempat yang tidak jauh dari ibu kota (Batavia) untuk mencari lokasi yang tepat untuk membangun lapangan terbang militer. Pilihan jatuh ke sebuah wilayah di Subang, Jawa Barat. Wilayah ini memiliki tanah yang berkontur bagus dan cuaca yang stabil sepanjang tahun.

Jika anda memiliki naluri sejarah yang tinggi dan berkunjung ke Lanud (Lapangan Udara) Suryadarma Kalijati, waktu seakan terhenti di puluhan tahun lalu di masa Nederlands-Indie. Ada sebuah hanggar tua dengan pesawat kuno di dalamnya, deretan rumah

Jumat, 29 Agustus 2014

Stasiun Radio Malabar, Stasiun Radio Yang Hebat Pada Masa Jayanya

Stasiun Radio Malabar berdiri dengan kokoh. Bagi saya ini terlihat indah,
arsitektur gedung yang indah berpadu dengan posisinya di Puntang

Para pegawai dan segenap pimpinan
berfoto bersama di depan Stasiun Radio Malabar

Kompleks hunian para pegawai Stasiun Radio Malabar.
Dalam foto ini, Gubernur Jenderal Dirk Fock melintasi kompleks hunian tersebut
dengan mobil

Puing-puing dari gedung Staiun Radio Malabar. Stasiun radio yang besar
itu kini nyaris tak tersisa dan hanya meninggalkan puing-puing

Puing-puing dari kompleks hunian karyawan Stasiun Radio Malabar
yang dinamakan Radiodorf (Kampung Radio)

Tanda bukti peresmian Stasiun Radio Malabar oleh
Gubernur Jenderal Dirk Fock. Meski tanggal peresmian tertera, namun upacara peresmian
tidak dilakukan di tanggal itu juga


Stasiun Radio Malabar (Radiostasion Malabar) adalah stasiun radio pemancar yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di Nederlands-Indie. Stasiun radio yang besar ini dibangun di daerah Gunung Puntang, yang merupakan bagian dari Pegunungan Malabar, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Stasiun radio inilah yang membuat Nederlands-Indie menjadi pusat perhatian dunia di tahun 1923. Dan, stasiun radio ini juga menjadi stasiun radio pemancar pertama dan terbesar di Asia Tenggara yang dibangun oleh Belanda.

Perintisan dan pembangunan Stasiun Radio Malabar dilakukan sejak tahun 1916, oleh seorang ahli teknik elektro yakni Dr. Ir. C.J. de Groot. Untuk pembangunan antenanya di Gunung Puntang dilakukan setahun setelahnya, 1917. Akan tetapi selalu mengalami kegagalan. Pada tahun 1923, de Groot berhasil menyelesaikan pekerjaan besarnya itu. Stasiun Radio Malabar pun diresmikan

Minggu, 27 Juli 2014

Pulau Onrust, Pulau Yang Melegenda di Era Nederlands-Indie

Lukisan Pulau Onrust

Rumah Sakit Karantina di Pulau Onrust (1917)

Salah satu peta tentang Pulau Onrust


Pulau Onrust merupakan salah satu pulau yang berada di wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau ini letaknya berdekatan dengan Pulau Bidadari. Penduduk di lingkungan Kepulauan Seribu menyebut pulau ini sebagai Pulau Kapal. Hal ini dikarenakan pulau Onrust seringkali dikunjungi kapal-kapal Belanda sebelum menuju ke Batavia. Pulau ini juga menyimpan banyak peninggalan arkeologi pada masa kolonial Belanda dan sebuah rumah yang masih utuh. Rumah inilah yang dijadikan sebagai Museum Pulau Onrust. Pada masa VOC, pulau ini digunakan sebagai tempat galangan kapal dan didirikan benteng. Antara tahun 1911 dan 1933, Onrust dimanfaatkan sebagai