Minggu, 26 April 2015

Sentuhan Para Habib dan Ulama (Nederlands-Indie dan Timur Tengah) Terhadap Jami'at Kheir: Sekilas Perjalanan Historis (Bagian 1)

Para pendiri dan staf Jami'at Kheir di depan bangunan madrasah


Perkembangan dakwah di Batavia pada abad ke-20, faktanya tidak dapat dilepaskan dari jasa para habib yang tidak kenal lelah dan senantiasa mengajar dan berdakwah ke berbagai tempat di Batavia. Nama pertama yang sangat berpengaruh tentu saja adalah Habib Utsman bin Abdullah bin Agil bin Yahya. Mufti Batavia itu memiliki pengaruh yang sangat luas dalam kehidupan keislaman di Jakarta dan sekitarnya. Kitab-kitab karya beliau, hingga kini masih menjadi pegangan para ulama Betawi.

Setelah periode Habib Utsman bin Yahya berlalu, ada lagi sejumlah tokoh habib di sana yang namanya tetap dikenang hingga kini. Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, Habib Ali bin Husain Al-Aththas, dan Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, adalah sebagian di antara mereka. Peran mereka bersama para ulama lainnya juga

Rabu, 22 April 2015

Gunung Kunci, Benteng Tua Nan Kokoh di Sumedang

Pemandangan di salah satu bagian dari Gunung Kunci.
Konstruksi benteng yang kuat seolah menjadi saksi bisu akan peristiwa masa lalu yang ada di sana

Bagian benteng pertahanan Gunung Kunci


Benteng tua ini berada di wilayah Sumedang. Letaknya pun tidak jauh dari pusat Kota Sumedang. Benteng ini berdiri di Gunung Panjunan, namun masyarakat lebih mengenal tempat ini dengan sebutan Gunung Kunci. Dinamakan demikian karena di gerbang masuk ke benteng ini terdapat lambang kunci menyilang. Sebenarnya Gunung Kunci sendiri tidaklah berarti gunung dalam artian gunung yang besar seperti Gunung Tampomas. Bisa dikatakan penamaan gunung itu karena letaknya yang berada di sebuah bukit yang letaknya berada di tengah Kota Sumedang.

Luas benteng ini kurang lebih sekitar 2.600 m2 dengan luas bunker yang mencapai sekitar 450 m2. Rincianya, benteng ini terdiri dari tiga lantai, meliputi ruangan untuk prajurit, perwira, tahanan dan benteng itu sendiri. Semua dilapisi dengan

Sabtu, 18 April 2015

Gerbang Amsterdam (Amsterdamsche Poort), Sisa Dari Kasteel van Batavia Yang Turut Menghilang

Salah satu foto Gerbang Amsterdam. Foto ini diperkirakan berasal dari tahun 1870

Lukisan tentang Kasteel van Batavia (dilihat dari Kali Besar).
Dilukis oleh Andries Beeckman pada tahun 1656


Gerbang Amsterdam (Amsterdamsche Poort) atau juga disebut Gerbang Penang (Penangpoort), adalah sebuah gerbang tua di Jakarta, yang dibangun pada saat ibu kota Republik Indonesia itu masih bernama Batavia. Dibangun untuk melengkapi Kasteel van Batavia (Kastil Batavia). Kasteel van Batavia sendiri dibangun pada tahun 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen, yang kemudian diganti dengan pembangunan kastil yang lebih besar pada tahun 1627. Posisi gerbang ini adalah di bagian selatan dari Kasteel van Batavia. Hingga tahun 1707, Kasteel van Batavia menjadi pusat pemerintahan bisnis, dan lainnya. Karena keadaan yang semakin tidak sehat, pusat pemerintahan pun dipindahkan ke bagian Selatan. Lebih tepatnya, pusat pemerintahannya ada di Stadhuis yang kini dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta.

Gubernur Jenderal Gustaaf Wilem Baron van Imhoff (1743-1750) memerintahkan untuk melakukan renovasi terhadap gerbang ini dengan gaya Rococo. Orang-orang yang memasuki Batavia dari pelabuhan Sunda Kelapa, pada masa itu