Minggu, 07 September 2014

Peneliti Telusuri Bastion de Smits




Balai Arkeologi Yogyakarta menelusuri kembali jejak Bastion de Smits, salah satu sudut benteng Kota Lama Semarang yang didirikan tahun 1741-1756. Selama ini, keberadaan Bastion de Smits hanya diketahui dari peta kuno Belanda, tetapi bentuk fisiknya belum ditemukan.

Peneliti Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta, Novida Abbas, menjelaskan, Bastion de Smits merupakan sudut benteng yang berbentuk seperti
mata panah jika dilihat dari atas. Bangunan ini digunakan sebagai tempat pengintaian, pengawasan, dan penyimpanan meriam.

”Di setiap sudut benteng, biasanya terdapat bastion (menara pantau). Ini adalah kekhasan benteng atau kastel Eropa (termasuk Belanda),” ucap Novida, Kamis (4/9), saat dihubungi Kompas dari Jakarta.

Berdasarkan data arsip dan peta kuno Belanda, luas benteng Kota Lama Semarang mencapai 31 hektar. Namun, pada 1824, Belanda menghancurkan benteng itu karena kebutuhan perluasan kota dan pembangunan jaringan rel kereta api.

”Pada arsip dan peta kuno Belanda disebutkan, selain Bastion de Smits, ada juga Bastion de Ijzer, Bastion de Hersteller, dan Bastion Amsterdam. Namun, di atas tiga bastion itu sekarang telah berdiri bangunan-bangunan baru. Kini, hanya Bastion de Smits yang memungkinkan digali karena berada di lahan parkir kosong Jalan Sleko, Kelurahan Bandarharjo, Semarang Utara, Kota Semarang,” tutur Novida.

Balar Yogyakarta mulai meneliti benteng Kota Lama Semarang sejak 2007 dan melakukan ekskavasi pada 2009 dengan temuan sisa tembok benteng di kedalaman 1,3 meter.

Penelitian relatif lambat karena terkendala limpasan air rob laut. Setiap penggalian mencapai kedalaman 30-40 centimeter, air mulai keluar sehingga menghambat ekskavasi. ”Kami menemukan posisi fondasi benteng pada kedalaman 2,4 meter-2,5 meter. Namun, sudut bentengnya belum ketemu,” ujarnya. 

Penelitian sempat terkendala perizinan karena lokasi yang menunjukkan letak Bastion de Smits berada di lahan milik PT Perusahaan Gas Negara. Akan tetapi, penelitian akhirnya bisa dilanjutkan. 

Kepala Seksi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jateng Gutomo mengatakan, hasil ekskavasi itu, jika memungkinkan, akan dijadikan situs yang dapat diperlihatkan kepada masyarakat. Dengan begitu, hasil penelitian benteng Kota Lama Semarang tidak hanya menjadi studi pustaka, tetapi juga dapat diketahui bentuknya.

Kepala Balar Yogyakarta Siswanto menambahkan, pembuktian itu akan menjadi poin tambahan untuk memaparkan sejarah Kota Lama Semarang secara komprehensif.


Sumber:
kompas.com   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar